Skip to main content

Blog entry by Muhammad Zidny Nafan

Syarat Mencari Ilmu

Syarat Mencari Ilmu

Sebelum membahas apa saja syarat mencari ilmu, marilah kita ketahui terlebih dahulu bahwasanya sebagai seorang Muslim, mencari ilmu atau thalabu al-’ilmi adalah suatu kewajiban. Sebagaimana hadits yang dituliskan Imam Ibnu Majah dalam kitab Sunan-nya:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ، وَوَاضِعُ الْعِلْمِ عِنْدَ غَيْرِ أَهْلِهِ كَمُقَلِّدِ الْخَنَازِيرِ الْجَوْهَرَ وَاللُّؤْلُؤَ وَالذَّهَبَ»

Dari Anas ibn Malik Ra., beliau berkata bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: “Mencari ilmu adalah wajib pada setiap muslim, dan orang yang meletakkan ilmu kepada selain dari ahlinya maka seperti mengalungkan permata, mutiara, dan emas pada babi”.

Menurut Imam An-Nawawi hadits tersebut dho’if menurut sanadnya tetapi shahih menurut matannya. Sedangkan menurut Imam Jamaluddin al-Mizzi, salah seorang murid Imam An-Nawawi, mengatakan hadits ini tergolong hadits hasan (hasan li ghairihi).

Sebagai suatu kewajiban maka mau tidak mau seseorang yang beragama Islam haruslah mencari ilmu. Hal ini semata-mata untuk menggapai Ridlo Allah Swt.

Dan didalam mencari ilmu tentulah si Pencari Ilmu harus memiliki bekal-bekal yang cukup sehingga dia sukses dalam pencariannya. Hal pertama yang harus dimiliki dan dilakukan oleh Pencari Ilmu adalah niat, niat yang sungguh-sungguh. Tersebut dalam Kitab Ta’lim Al-Muta’allim oleh Syaikh Azzarnuji -yang fenomenal dikalangan pesantren tradisional di Indonesia khususnya dan merupakan kitab wajib yang harus dikuasai dan diamalkan oleh para santri-santri-, niat mencari ilmu khususnya ilmu agama setidaknya mencakup hal-hal berikut: Niat mengharapkan Ridlo Allah Swt., untuk menggapai kebahagiaan akhirat, membasmi kebodohan bagi dirinya dan kebodohan orang-orang disekitarnya, menghidupkan agama, dan untuk menjaga keberlangsungan (kekekalan) agama.

Selain niat Pencari Ilmu juga harus memiliki 6 hal sebagai modal dalam mencari ilmu. Mengenai hal ini, Syaikh Azzarnuji di dalam kitabnya tersebut menuliskan sebuah syair dari Sayyidina ‘Ali Kw., beliau mengatakan:

ألا لا تنال العلم إلا بستة * سأنبيك عن مجموعها ببيان

ذكاء وحرص واصطبار وبلغة * وإرشاد أستاذ وطول زمان

Engkau tak mampu peroleh ilmu tanpa enam (syarat) * Berikut aku jelaskan padamu

Cerdas, semangat, sabar, bekal * Petunjuk guru, dan waktu yang panjang


Cerdas

Seorang Pencari Ilmu haruslah memiliki kecerdasan sehingga ia dengan mudah menyerap ilmu yang diajarkan oleh Sang Guru. Dalam KBBI, kata Cerdas diartikan sebagai sempurna perkembangan akal budinya (untuk berpikir, mengerti, dan sebagainya); tajam pikiran. Kecerdasan dalam hal ini juga berarti kepandaian, dan kuatnya hafalan.

Salah satu hal utama yang dapat menguatkan hafalan adalah meninggalkan kemaksiatan terhadap Allah Swt., dikarenakan hafalan adalah karunia Allah dan Allah tidak akan memberikan anugerah kepada orang yang durhaka pada-Nya. Selain itu untuk menguatkan hafalan dapat melalui sarana membaca Al-Quran, terlebih lagi membaca sembari menyimak.

Syeikh Azzarnuji menuliskan beberapa tips untuk menguatkan hafalan, adalah adanya kesungguhan, kontinuitas, shalat malam, dan mengurangi makan.

Seorang Pencari Ilmu haruslah cerdas dalam menggunakan waktu.

Semangat

Seorang Pencari Ilmu haruslah memiliki semangat yang tinggi dalam belajar. Semangat disini juga dapat diartikan sebagai usaha yang sungguh-sunguh atau ber-ijtihad, sebagaimana syair versi Imam Al-Syafi’i. Seorang pencari ilmu juga harus memiliki kecintaan terhadap ilmu yang dipelajarinya. Dengan adanya kecintaan ini maka akan tumbuh semangat dalam mencari ilmu.

Sikap bersungguh-sungguh ini juga selaras dengan Firman Allah Swt.:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّـهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69).

‘Abdullah ibn Yahya ibn Abi Katsir berkata, Bapaknya berkata:

لَا يُسْتَطَاعُ الْعِلْمُ بِرَاحَةِ الْجِسْمِ

Artinya: “Tidak akan mendapat ilmu tubuh yang santai-santai”. (Shahih Muslim).

Sabar

Para Pencari Ilmu hendaklah bersabar dalam belajar. Dengan sikap yang sabar ini maka seseorang lebih mudah berlapang dada. Dalam perjalanan mencari ilmu terkadang akan menemui hambatan-hambatan atau rintangan-rintangan.

Allah Swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّـهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqarah: 153).

Bekal

Seorang Pencari Ilmu haruslah memiliki bekal baik dalam bentuk uang saku maupun peralatan yang mendukung dalam belajar, seperti buku pelajaran, buku tulis, pulpen, kalkulator, komputer, dan sebagainya.

Petunjuk Guru

Salah satu hal yang paling penting dalam menuntut ilmu adalah petunjuk dari seorang guru. Terlebih belajar ilmu agama, haruslah sesuai dengan petunjuk guru. Belajar agama janganlah secara otodidak, karena akan menjadi bahaya jika salah memahami suatu teks bacaan.

Dikarenakan begitu pentingnya petunjuk guru, maka kita haruslah menghormati dan memuliakan guru. Hal ini semata-mata untuk mendapatkan ridlo guru yang pada akhirnya akan mengantarkan kita kepada Allah Swt.

Waktu yang Panjang

Syarat terkahir dalam syair tersebut adalah waktu yang panjang, artinya penguasaan terhadap suatu ilmu tidak dapat diperoleh secara langsung atau instan, tetapi membutuhkan waktu yang lama untuk dapat menguasai suatu ilmu.


*oleh:

Muhammad Zidny Naf’an, Lc., S.Kom., M.Kom.

Khodim di Pondok Pesantren Al-Amien, Purwokerto Wetan

Dosen di IT Telkom Purwokerto


  • Share

Reviews